Mengerjakan PR Siswa Kewajiban Siapa ya!!

Cerita sederhana tentang pendidikan luar sekolah, orang-orang sering menyebutnya dengan nama les atau pelajaran tambahan setelah kegiatan belajar pada jam sekolah. Pengalaman pribadi ini saya pernah tulis di facebook.

Baru-baru ini istri saya ulfa, memulai kelas tambahan untuk anak-anak TK & SD. Setiap selesai kegiatan istri menyampaikan kepada saya, tentang kondisi anak-anak peserta kelas tambahan. Diawal kelas mulai ada anak yang tidak mau ditinggal orang tuanya hingga menangis saat kegiatan.

Suatu saat istri meminta waktu para orang tua untuk menceritakan bagaimana anak-anak pada saat disekolah, berbagai macam pendekatan dilakukan hingga melibatkan orang tua untuk menceritakan keadaan anak-anak pada saat di sekolah.

Cacatan menarik bagi saya, ketika orang tua bercerita merasa kesulitan saat mendampingi anak-anak mereka dalam mengerjakan tugas. Para orang tua yang memiliki anak yang duduk pada SD, orang tua merasa harus membantu anak-anak dalam menyelesaikan tugas PR yang diberikan oleh guru untuk diselesaikan di rumah.

Beberapa kali kelas tambahan dijalankan, beberapa kali permasalahan serupa, orang tua merasa sulit memberikan pemahaman pada anak untuk menyelesaikan tugas. Begitu juga pada anak ketika ditanya apa bisa mengerjakan tugas PR, jawaban yang ada adalah tidak bisa.

Setelah saya mengira-ngira bak seorang dukun, apa sebenarnya yang diinginkan oleh anak-anak dan orang tua memutuskan bersusah payah ikut kelas tambahan?. Jawaban yang mengejutkan adalah ingin melimpahkan tanggungjawab mengerjakan PR kepada istri saya untuk menyesaikan tugas PR anak-anak.

Sampai disini saya protes, lah kok wani ikut campur, melu protes. Yo wanilah, lah wong istriku dewe. Kalo tujuannya mengikutkan anak-anak pada kelas tambahan sebagai cara mencari kunci jawaban lapo angel-angel ngajari!, langsung di print wae kunci jawabane. Uewenak toh.

Tanggungjawab Mendidik


Sampai disini kemudian saya bertanya bagaimana kondisi anak-anak, apakah mereka paham materi yang sudah didapatkan pada sekolah?, Apakah orang tua mereka memberikan pemahaman pada anak tentang tanggungjawab menyesaikan tugas!?.

Zonk bin nihil, itulah jawabnya. Anak² tidak bisa mengerjakan tugas PR yang diberikan karena tidak paham materinya sama sekali dan orang tua merasa tugas itu adalah Pekerjaan Rumah yang boleh dikerjakan oleh siapapun.

Kondisi seperti ini mungkin Dodit Mulyanto bisa memberikan klarifikasi, “kamu yang berbuat saya yang harus bertanggung jawab”. Hahaha, oke kalo kelas tambahan adalah wadah untuk membantu anak-anak, tapi hal dasar yang harus diingat adalah menanamkan tanggungjawab bapak-ibu. Bukan soal pelit dalam memberikan kunci jawaban.

Ilustrasinya begini bapak-ibu, semester ganjil masih bisa ikut kelas tambahan pada istri saya, semester genap masih bisa ikut lalu naik kelas. Semester ganjil kelas baru sudah dimulai lagi, lalu masuk SMP dan SMA. Kemudian lulus. Itu nasib mujur banget kalau iya. Kalo tidak siapa yang bantu?!

Nah itu bapak-ibu paling penting dari kelas tambahan ini, bukan tentang kunci jawaban atau jawara kelas karena bisa mengerjakan PR dengan baik. Jadi bapak-ibu semua, apa anda mengikutkan anak2 anda kelas tambahan? mau kelas yang berbayar atau kelas yang gratis-tis?

Bagi saya pribadi kelas tambahan hanya sebagai stimulus biar nak-kanak bisa menyelesaikan tugas PR yang diberikan oleh guru, soal keberhasilan ya diusahakan sambil didoakan. Namanya juga anak-anak. hehehehe

Kalo masih mau cara cepat yo silahkan ke KFC saja ya. Biar dapat yang enak, nanti pasti ditawari: Mau paha atau dada?. Jomblo saja harus ta’aruf biar dekat dan jadian, mau pintar ko instan. hehehehe

Salam buat sederek pakar pendidikan dan para psikolog, gimana ni kondisi anak-anak kita? sudah nyaman belum di sekolah?

0 komentar